
tempokpk.id/ Mesuji – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (DPC GRIB) Jaya Kabupaten Mesuji menyuarakan keluhan masyarakat petani plasma sawit di Desa Labuhan Baru, Kecamatan Way Serdang, Kabupaten Mesuji terkait seringnya penolakan buah sawit yang mereka kirim ke Pabrik TBL-BW Simpang Pematang. Penolakan ini dinilai merugikan petani plasma yang bermitra dengan perusahaan tersebut.
Ketua DPC GRIB Jaya Mesuji, Apri Susanto, SH,MH., menjelaskan bahwa para petani mengeluhkan buah sawit mereka sering ditolak dengan alasan “magel” atau belum matang. “Padahal, saat dipanen, buah sawit dari petani plasma ini sudah mulai brondol, yang menandakan buah sudah masuk fase matang dan siap olah,” ujar Apri Ketua DPC GRIB Jaya Mesuji pada Rabu (8/10/2025).
Menurut keterangan yang dihimpun dari para petani sawit Labuhan Baru, kondisi ini diperparah dengan dugaan adanya perlakuan berbeda di pabrik. Beberapa supir pengangkut buah sawit melaporkan bahwa buah mentah dari petani di luar plasma justru tetap diterima oleh pabrik. “Para supir yang mengangkut buah sawit kami melihat langsung, banyak buah mentah dari petani luar plasma tetap diterima oleh pabrik. Ini terlihat jelas dari tumpukan buah yang ada,” tambah Ketua DPC GRIB Jaya Mesuji, mengutip keluhan petani.
Situasi ini menimbulkan kerugian besar bagi petani plasma yang selama ini bermitra dengan TBL-BW. Salah seorang perwakilan petani plasma sawit inisial HS Way Serdang mengungkapkan kekecewaannya. “Jika begini terus, lebih baik kami minta kembalikan saja kebun plasma kami biar kami urus masing-masing. Lagipula, kontrak kami dengan perusahaan sudah lama selesai dan kami juga tidak punya hutang dengan perusahaan,” tegasnya, mewakili suara petani lainnya.
DPC GRIB Jaya Mesuji berharap pihak Pabrik TBL-BW Simpang Pematang dapat meninjau kembali kebijakan penerimaan buah sawit dan memastikan adanya perlakuan yang adil bagi seluruh petani, khususnya petani plasma yang telah lama menjadi mitra. Mereka mendesak agar ada solusi konkret untuk mengatasi permasalahan ini demi keberlangsungan hidup petani plasma di Labuhan Baru.




